Sabtu, 30 Juli 2022

KARENA KITA TIDAK SEMPURNA.


Tidak ada keluarga yang sempurna
Kita tidak mempunyai orangtua yang sempurna
Kita bukan orang yang sempurna
Kita tidak menikah dengan orang yang sempurna.
Kita juga tidak memiliki anak yang sempurna.
Itulah sebabnya
Keluarga harus menjadi tempat kehidupan
Bukan sebagai tempat kematian
Keluarga adalah sebuah tempat penyembuhan
Bukan tempat yang membuat kita menjadi sakit
Keluarga sebagai panggung pengampunan
Bukan panggung untuk menunjukkan kesalahan atau saling menyalahkan.
Jangan kita merasa sempurna
Sehingga membuat kita merendahkan pasangan kita
Memang begitulah seharusnya, kita saling menerima apa adanya dan saling melengkapi dalam ketidaksempurnaan kita masing masing
Karena ketidaksempurnaan diri memampukan kita untuk tetap bertahan dalam lindunganNya

TENTANG BELAJAR MENGEMUDI

Repost tulisan di Facebook : 5 Februari 2016

Minggu lalu sejak Rabu sampai Sabtu dik Fajar tidak sekolah karena sakit. Tidak seperti biasanya, kemarin ini sakitnya agak mengkhawatirkan. Anaknya demam tinggi. Diberi penurun panas, turun lalu naik lagi. Begitu terus. Tapi anaknya menggigil kedinginan padahal badannya panas tinggi. Tiap kali makan muntah dan kalau jalan mengeluh sakit, lemas, pusing dan akhirnya tiduran terus. Tapi nggak mau ke dokter karena takut disuntik.
Jumat sore minggu lalu, anaknya mau saya bujuk pergi ke RSU terdekat, karena saya khawatir sekarang lagi musimnya sakit demam berdarah atau kena tipus. Setelah tes darah, memang belum menunjukkan sakit DB atau tidak karena baru 3 hr, namun terindikasi ada infeksi sehingga diberi obat yang mengandung antibiotik dan alhamdulillah sekarang sudah sembuh.
Pada saat dibawa ke RS, anaknya lemas jadi kasihan kalau dibonceng motor sendiri. Belum si bungsu rewel minta ikut juga kakaknya. Jadilah kami semua akhirnya pergi berlima ikut semua. Saya, anak tiga dan mbak PRT.
Sampe disini saya baru menyadari bahwa saya beruntung karena disaat keadaan darurat membutuhkan, saat suami masih di kantor, saya bisa mengatasinya karena saya bisa mengemudikan kendaraan roda empat.
Sebelumnya, selama 3 tahun sejak 2006 sd 2009 saya trauma menyetir mobil akibat insiden menabrak pagar tembok tetangga sampai ambruk. Waktu itu sepulang dari bepergian pada waktu mau masuk gang ke perumahan tempat tinggal kami saat itu, ternyata saat belok ada gundukan pasir di tepi jalan dan ada rombongan anak anak pulang TPA yang lewat. Walhasil karena panik, saya yang mulai belajar nyopir di tahun 2005 reflek membanting setir ke kiri tapi bukannya menginjak rem malah menginjak gas.
Ya sudahlah. Tembok rumah tetangga yang kebetulan kosong itupun ambrol dan bagian depan mobil carry careta waktu itu ringsek. Saya menghabiskan 4 juta untuk servis mobil dan 1,5 jt untuk memperbaiki tembok. Setelah itu saya nggak mau pegang stir lagi, meskipun ayah mau membantu.
Sampai suatu hari di tahun 2009, Pak Suparman pengemudi di kantor saya dalam suatu obrolan menyarankan saya untuk belajar stir dan beliau bersedia membantu. Karena sudah tiga tahun nggak pegang, saya pun mulai belajar dari awal lagi dengan beliau meski awalnya timbul keringat dingin karena ingat kejadian tempo hari
" Bu, untuk lebih mudahnya, bayangkan tubuh kita menyatu dengan kendaraan ini. Dan kitalah yang akan mengendalikannya " begitu saran beliau.
Setelah belajar di lapangan, dilanjutkan selama satu minggu Pak Parman mendampingi saya membawa mobil ke kantor. Jadi beliau dari rumah motornya dititipkan rumah saya. Lalu bersama sama pergi ke kantor dimana saya nyupir dan beliau disamping saya memberi arahan dengan sabar. Begitu juga saat pulang beliau ikut mobil saya
Alhamdulillah dengan semboyan kita bisa karena terbiasa, saya kembali bisa mengemudikan roda 4 sampai sekarang meski nggak berani terlalu kenceng. Dan yang lebih penting saya bisa "Move On" dari kejadian tabrakan waktu itu dan bisa mengatasi masalah disaat membutuhkannya. Tak lupa terimakasih untuk Pak Parman yang banyak membantu saya.

MASJID PANGERAN DIPONEGORO

 Repost tulisan di facebook 7 Februari 2016




Masjid Pangeran Diponegoro Tembalang Semarang merupakan salah satu masjid yang berdiri sejak lama di area sekitar kampus Undip Tembalang. Masjid ini dikenal dengan nama singkatan yaitu MPD yang dikelola oleh yayasan Sultan Trenggono.
MPD merupakan tempat aktifitas keagamaan para mahasiswa Undip kampus Tembalang pada era saya waktu itu sekitar 1993-1999 seperti pengajian, belajar mengaji anak - anak, radio Islam MPD FM dll selain fungsi utama sebagai tempat ibadah sholat. Lokasinya strategis yaitu di perempatan Jl Prof Soedarto Tembalang dekat lapangan bola.
Kini, kampus Undip Tembalang telah memiliki Masjid Universitas Diponegoro atau Masjid Undip yang merupakan masjid milik universitas yang berdiri sejak tahun 2006, sehingga terdapat alternatif pilihan bagi mahasiswa dan masyarakat sekitar untuk melakukan ibadah sehari hari.
Tahun demi tahun berlalu, kami masih berupaya menyambung silaturahmi melalui grup WA alumni PAISPA dan MPD dan teman teman mendirikan Yayasan Bina Fitrah yang juga bergerak dalam pendidikan anak di daerah Gedawang Semarang sejak sekitar tahun 2006 an.
PAISPA adalah singkatan dari Pembinaan Anak anak Islam Masjid Pangeran Diponegoro waktu itu yang mempunyai aktifitas mengajari anak anak mengaji, mentoring dan kreativitas lainnya. Meski kini keberadaannya telah tiada. Tinggallah kenangan akan kebersamaan, pelajaran tentang kehidupan, perjuangan, idealisme, serta persahabatan yang tulus.
(Jadi teringat sahabat kami pembina PAISPA mbak Rooslina almh, alumni Fisika MIPA Undip angkatan 93 asal Lampung yang telah pergi mendahului kami untuk menghadapNya pada tahun 2009an karena musibah kecelakaan di Lampung dengan meninggalkan putranya yang masih bayi saat itu. Semoga mendapatkan tempat terbaik disisiNya dan diampunkan segala kesalahannya. Amin)

Mengenang Mereka yang Telah Pergi (3)

Repost tulisan di Facebook 25 Desember 2015

Makanan yang sedang kita buat atau kita makan seringkali mengingatkan kita kepada seseorang. Demikian pula dengan masakan telur bumbu bali yang pertama kali saya mengenalnya dari kakak sepupu saya, Mas Danang Catur Nugroho (alm) yang telah berpulang lebih 10 tahun yang lalu.

Mas Danang semasa hidupnya gemar memasak makanan sendiri dan cukup enak. Khusus telur bumbu bali, beliau suka tomat yang banyak, sekitar satu kilogram untuk sekali masak.
Suatu hari di pertengahan tahun 1993 setelah saya diterima UMPTN di Kesehatan Masyarakat Undip, Semarang, saya sempat tinggal di rumah budhe Muryani almh di daerah Wonodri Kebondalem, di belakang SMA Sultan Agung Semarang yang cukup dekat dengan kampus Undip Pleburan.
Saya yang waktu itu belum mengenal kota Semarang, mengurus keperluan sebagai mahasiswa baru dari rumah budhe. Setelah menyelesaikan administrasi di kampus pusat Undip Pleburan, lalu dilanjutkan mengurus ke PSKM namanya waktu itu atau Program Studi Kesehatan Masyarakat FK Undip.
" Kampusmu nggak disini dik, tapi di Tembalang, di atas sana. Nanti tak anter " begitu kata Mas Danang waktu itu. Dan dengan angkutan umum kijang warna orange dan dilanjutkan angkutan plat hitam waktu itu, kami berdua pergi ke Undip Tembalang.
Pertama kali turun di lapangan sepakbola di depan kampus D3 politeknik, saya melihat ke sekeliling. Kok sepi sekali ya. Hawanya juga dingin dingin sejuk.
" Memang tempate masih sepi dik, karena ini kampus baru. Tapi besuk tempat ini bakalan rame karena Undip S1 nya mau naik semua ". Jelasnya seolah membaca pikiran saya.
Belum hilang keheranan saya ternyata dari jalan raya, kami masih harus jalan kaki sekitar 300m karena PSKM letaknya di belakang D3 Poltek Undip berdekatan dengan FNGT atau Fak Non Gelar Teknik waktu itu.
" Nanti dek Ndayu cari kost di sekitar sini saja. Biar nggak kejauhan ". Begitu saran mas Danang. Beliau juga sempat bilang sambil guyon, kalo teman saya nanti orangnya sudah tua tua. Di kemudian hari saya baru mengerti kalau yang dimaksudkan adalah mahasiswa lintas jalur dr tugas belajar berusia 27 sd 44an tahun yang memang kelasnya dicampur dengan anak reguler dari SMA
Pada waktu saya mengikuti opspek di kampus FK Undip di Gunung Brintik dekat RSUP dr Karyadi, yang melelahkan sampe sore disertai dengan tugas keesokan harinya, mas Danang juga ikut ikutan ribut.
" Wis dik, tugase butuhe opo, saiki golek dikancani Mbak Rien neng Sri Ratu Peterongan. Ra sah mikir adus barang "
( Sudah dik, tugasnya butuhnya apa, sekarang juga cari di Sri Ratu Peterongan, ditemani mbak Rien, (kakak mas danang) nggak usah mikir mandi )
Begitulah awalnya, kemudian saya kost di Tembalang, semester akhir sempat tinggal dengan Mbak Chris kakak sepupu di Banyumanik sampai kuliah selesai, sempat kerja di swasta lalu keterima PNS di Yogya, dan saya mendengar kabar kalau beliau sakit gagal ginjal.
Saya yang baru saja menikah waktu itu sempat menengok dengan Pak Gunawan suami saya ke ruang ICU RS Panti Wilasa Citarum Semarang. Sebenarnya tidak tega melihat kondisi beliau waktu itu yang dipenuhi dengan alat alat medis, sehingga untuk berkomunikasi saja kami melakukannya melalui secarik kertas yang beliau tulis dan saya juga gantian menulis.
Sampai akhirnya beberapa bulan kemudian beliau dipanggil menghadapNya pada tahun 2004 dalam usia 39 tahun dan dimakamkan di Pemakaman Umum Trunojoyo Banyumanik Semarang.
Maturnuwun Mas atas segala kebaikannya. Semoga mendapat tempat terbaik disisiNya Amin.
Dan saya mengenang beliau sebagai orang yang pertama kalinya mengenalkan kampus Undip Tembalang kepada saya dan masakan telur bumbu balinya yang enak.
Sleman, 25 Desember 2015,
pk 02.51 dini hari

Mengenang Mereka yang Telah Pergi (2)

Repost tulisan di Facebook 9 Desember 2015

Hari senin kemarin sebenarnya saya masih mengambil cuti tahunan kantor, namun berhubung sudah dijadualkan jauh hari, maka hari itu saya tetap pergi ke Badan Diklat DIY untuk menghadiri seminar hasil prajabatan PNS yaitu dik Rismiyati dan Arum Ika Yulianawati dari perekam medis.

Setelah acara selesai jam 10, berhubung cuti saya tidak balik lagi ke kantor. Saya menyempatkan diri jalan jalan sebentar di lingkungan Badan Diklat yang asri di kawasan Gunung Sempu, Kasihan Bantul.
Banyak gedung baru yang dibangun diatas tanah yang konturnya berbukit bukit naik turun mengingatkan saya dengan kota Semarang tempat saya kuliah dahulu.
Di tempat yang merupakan tempat pendidikan dan pelatihannya para PNS DIY ini setidaknya saya sudah dua kali diasramakan disini yaitu waktu pra jabatan sekitar 2-3 minggu rodo lali dan diklat kepemimpinan / diklatpim 4 hampir 1,5 bulan.
Saat diklatpim 4 saya sempat mengalami insiden jatuh dari tangga yang menyebabkan sendi tumit kaki kanan saya patah dan dioperasi lalu dipasang semacam baut / pen sebanyak 2 buah yang sampai sekarang masih bertengger di dalam kaki saya.
Selama hampir 2 bulan saya berjalan menggunakan kursi roda atau tongkat penyangga. Dan selama masa itu atas dorongan teman teman sediklat waktu itu, sekeluar dari RS saya tetap berusaha menyelesaikan kegiatan sampai akhir. Bisa dibayangkan dengan kondisi medan naik turun seperti itu apalagi kamar tidur serta ruang kelas berada di lantai 2.
Dalam keadaan seperti itu teman temanlah yang banyak membantu terutama pak Hari Megeng sang ketua kelas, mbak Maya Gondhokusumo, mbak Jatmi, mb Inti mawarni, Pak Kusno. Pak Lilik, Mbak Yemmy, Bu Made, Pak Aris yang rajin mendorong kursi roda, dll dan terutama Mbak Dwi Lestari Malistiati atau Bu Lis teman sekamar saya dari Disnakertrans atau Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY yang setia mengambilkan saya makanan dan minuman ke kamar berhubung tempat makan di gedung menza cukup jauh. Setelah diklat selesai kami tetap berhubungan baik dengan sesama alumni diantara kesibukan kami masing masing.
Namun beberapa waktu yang lalu saat bertemu dengan Pak Karno, kasubbag program Disnakertrans DIY, saya mendapatkan kabar bahwa Bu Lis telah tiada setelah cukup lama berjuang melawan kanker payudara.
Sebelumnya sebenarnya saya sudah mendengar kabar beliau mengundurkan diri sebagai Kasie Perijinan dan sertifikasi pelatihan Disnakertrans DIY, dan kondisinya sudah di rumah terus. Saat itu saya sempat berniat menengoknya sepulang dari suatu acara, namun karena takut kesorean saya mengurungkan niat tersebut. Dan sebelum saya sempat menemuinya, beliau telah dipanggil yang maha kuasa.
Ada perasaan menyesal karena belum sempat bertemu bu Lis untuk terakhir kalinya. Ternyata ketika kita mempunyai niat baik sedapat mungkin niat itu jangan kita tunda tunda sebelum akhirnya kesempatan itu telah pergi.
Selamat jalan bu Lis, semoga mendapatkan tempat terbaik disisi Nya.
Sleman 9 Desember 2015 dini hari

Mengenang mereka yang telah pergi (1)

 

Repost tulisan di facebook 9 Desember 2015

Beberapa hari kemarin entah mengapa saya selalu teringat dengan teman kerja saya, yang sejak beberapa bulan lalu memutuskan untuk pensiun dini setelah sebelumnya sudah tidak aktif bekerja sejak Maret 2013.
Terakhir kali beliau ngantor adalah saat kami, pengurus dan pengawas koperasi mengadakan rapat anggota tahunan/RAT dimana beliau merupakan ketua Pengawasnya. Setelah itu beliau tidak aktif karena sakit yang kemudian diketahui sebagai kanker usus dan kemudian menjalani operasi Kolostomi yaitu pembedahan untuk pembuatan lubang dari usus besar melalui dinding perut untuk mengeluarkan feses.
Proses selanjutnya adalah menjalani kemoterapi sebagaimana penderita kanker pada umumnya. Meski tidak bisa aktif lagi, saat ada undangan acara di kantor seperti halal bihalal, RAT koperasi beliau mengupayakan untuk datang maupun sesekali ke kantor untuk suatu urusan.
Hati saya mulai bertanya tanya saat beliau yang terakhir sebagai Kasubbag Umum di kantor kami, tidak datang memenuhi undangan acara HUT RS. Dan beberapa hari kemarin saya teringat beliau terus sehingga saya mencari nomor kontaknya karena beberapa waktu lalu no kontak di hp saya hilang semua. Dan ternyata ketika sy sms saat kami kumpul rapat koperasi, yang menjawab istrinya bahwa beliau sudah tidak bisa apa apa lagi dan mohon doanya.
Maka Rabu kemarin setelah rapat koperasi yang dilanjutkan rapat verifikasi data penanganan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak ke Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat atau BPPM di Jln Tentara Rakyat Mataram Yogyakarta , saya putuskan untuk mampir ke rumah beliau di Pingit yang kebetulan tidak jauh dari BPPM.
Alangkah terkejutnya saya saat menemui beliau mendapati kondisinya yang sudah sangat memprihatinkan padahal 3 bln yang lalu saat terakhir ke kantor kondisinya masih bagus. Kemarin saya nyaris tidak dapat mengenalinya lagi, sangat kurus sekali dan beliau hanya bisa terbaring lemah dan selalu kesakitan, hanya bisa makan peptisol dan nestle, namun masih bisa diajak komunikasi meskipun terbata bata.
Diketahui bahwa beliau mengalami
Metastasis atau penyebaran kanker dari suatu organ tubuh ke organ tubuh lain, yaitu ke tulang dan hati.
Saat menemuinya beliau menangis, meminta maaf atas segala kesalahan, merasa tidak kuat lagi dan ingin secepatnya dipanggil yang maha kuasa. Sekuat tenaga saya berusaha menahan air mata untuk membesarkan hatinya agar bersabar, berdoa dan berpasrah kepada Allah, walau akhirnya jebol juga dan kami pun bertangisan. Memang siapapun yang melihatnya tidak tega dengan kondisinya saat ini. Beliau yang orangnya baik dan nggak neko neko, harus mendapatkan cobaan seberat itu.
Sorenya dan hari hari berikutnya teman teman di kantor mulai datang menjenguk serta melakukan penggalangan dana untuk meringankan beliau dan keluarganya.
Beliau sendiri adalah seorang difabel yang hanya memiliki satu tangan kanan. Sedang tangan kirinya sejak lahir tidak tumbuh sempurna hanya sebatas lengan saja. Meski begitu beliau banyak berprestasi dalam bulutangkis dan dulu sering mengikuti turnamen olahraga bagi penyandang cacat hingga ke luar negeri seperti korea dan mendapatkan medali emas.
Saya masih ingat, saat kami masih satu unit kerja sebagai staf program, setiap pulang dari turnamen beliau selalu mentraktir teman temannya makan di luar. Dan saat saya melahirkan anak kedua yang lahir sebelum waktunya, baru 8 bulan secara cesar, beliau yang pertamakali menengok dengan pak tri waktu itu ke rumah sakit, mengantarkan berkas yang harus ditandatangani dan membantu mengurus pekerjaan saya di kantor.
Semoga diberikan ketabahan dan kesabaran dan semoga diberikan Nya yang terbaik ya, Pak.
Dan untuk kita semua selalu waspada dengan penyakit kanker yang saat ini semakin banyak penderitanya. Secepatnya berobat saat stadiumnya masih rendah.
Ternyata itulah pertemuan saya dengan beliau untuk yang terakhir kalinya seminggu sebelum beliau menghadap Nya pada hari selasa 8 Desember 2015, pada usia 53 tahun. Innalillahi wa inna ilaihi roojiun
Selamat jalan Pak Surasno, semoga mendapatkan tempat yang terbaik disisiNya, diangkat segala dosa dan kesalahan melalui cobaan sakit selama hampir tiga tahun ini.
Beberapa teman sudah terlebih dahulu meninggalkan dunia ini. Sudahkah kita bersiap diri seandainya tiba saatnya giliran kita nanti?

BERKAH PASIR MERAPI

Repost tulisan di Facebook 6 Maret 2016

Selama beberapa hari berturut turut kemarin, harian Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta menampilkan berita tentang penyelamatan gumuk pasir di pantai Parangtritis dari penambangan liar yang membuat kawasan langka dan unik tsb berkurang dari 20 hektar menjadi 6 hektar yang berujung pada keputusan ditutupnya penambangan gumuk pasir di parangtritis.
Keberadaan gumuk pasir langka sejak puluhan tahun yang lalu tersebut tidak terlepas dari material gunung merapi berupa batu batuan besar dan pasir yang turun melalui sungai yang berhulu di merapi dan semuanya bermuara di pantai selatan, lalu dalam kondisi kering berkumpul membentuk bukit pasir yang luas dan indah.
Namun di satu sisi , daya tarik menjual pasir dari gunung Merapi oleh para penambang membuat gumuk pasir Parangtritis terancam punah.
Disisi lain, erupsi gunung Merapi yang cukup dahsyat pada tahun 2010 yang lalu, selain menimbulkan korban jiwa ratusan orang, beberapa desa terkubur, ribuan pengungsi serta kerugian materi yang tidak sedikit namun juga membawa berkah lain yaitu keberadaan muntahan pasir merapi yang sangat fantastik yang merupakan bahan material kualitas nomor satu yang banyak diburu oleh toko toko bangunan hingga pengiriman keluar kota.
Menurut sumber dari Yogyakarta Tourist Information, jumlah volume pasir yang ditumpahkan ke sekitar gunung dan di 12 sungai yang berhulu di Gunung Merapi tersebut diantaranya sungai Gendol, sungai Boyong, sungai Woro dll tersebut sekitar 140 juta m3, dan itu gratis. Jumlah tersebut apabila dikalikan per meter kubiknya dengan harga pasar, maka nilainya mencapai 7 trilyun rupiah. Tak heran banyak orang yang kemudian ikut ambil bagian dalam penambangan pasir baik legal maupun ilegal untuk turut menuai berkah pasir merapi
Kini, di sepanjang Jalan Pakem Turi Sleman di sepanjang kiri dan kanan jalan banyak berdiri depo pasir baru. Jadi pasir yang diambil dari sungai ditempatkan di suatu tempat yang luas untuk dijual kembali hingga keluar kota. Disatu sisi lalulintas truk bermuatan pasir juga membuat jalan jalan cepat rusak terutama jalan dari Koroulon Ngemplak Sleman ke arah Manisrenggo Klaten yang berkali kali rusak.
Mbak Sri mantan PRT saya dan suaminya mas Wanto adalah salah satu dari sekian orang yang mendapatkan berkah dari pasir merapi. Mbak Sri pernah ikut saya setahun lebih waktu dafa masih bayi juga waktu dik fajar lahir sampai usia 7 bulan. Meski sudah tidak bekerja lagi di tempat saya namun dia masih sering bersilaturahmi ke rumah kami.
Pada waktu erupsi 2010, mbak Sri dan Mas Wanto yang merupakan tetangga mbah Maridjan alm sebenarnya baru saja membangun rumah kecil kecilan disamping rumah mertua. Namun apa daya, rumahnya dan rumah mertuanya serta beberapa desa lainnya lenyap tak berbekas terkubur muntahan lahar, hingga bersama warga lainnya mereka direlokasi pemerintah di hunian tetap / huntap Batur Cangkringan Sleman.
Di hunian barunya yang mirip perumahan itu mbak Sri yang bersekolah sampai klas lima SD namun rajin bekerja ini mencoba membuka laundri dan melayani pelanggan dengan cara jemput bola ke rumah rumah sambil mengurus Sendi anak tunggalnya yang berumur 8 tahun.
Sedangkan suaminya mas Wanto bekerja mencari pasir beserta ratusan penambang lainnya di sekitar sungai Gendol. Berkat keuntungan berlimpah dari penjualan pasir selama beberapa tahun, mas Wanto mempunyai tabungan yang cukup banyak, hingga suatu hari sekitar 1 tahun yang lalu mbak Sri kembali datang ke rumah kami untuk menanyakan kepada Bapak tentang bagaimana caranya membeli mobil.
Bapak waktu itu menasehati bahwa alangkah baiknya tabungan yang diperoleh diputar lagi untuk usaha lain daripada membeli mobil yang memerlukan biaya operasional dan nilainya semakin menurun. Kalau sudah mempunyai penghasilan dari beberapa sumber, barulah memikirkan membeli mobil pribadi.
Beberapa hari yang lalu saya kembali bertemu mbak Sri di toko swalayan Lestari di dekat rumah. Dia cerita kalau tabungannya dulu akhirnya dibelikan 6 ekor sapi yang dibesarkan bersama sama dengan kelompok peternak sapi lainnya di atas tanah bekas rumah mereka dulu yang sekarang dilarang untuk dijadikan tempat tinggal.
Selain itu mas Wanto bersama 7 penambang pasir lainnya patungan membeli sebuah minibus pariwisata yang disewakan kepada masyarakat yang membutuhkan. Untuk transportasi, mbak Sri dan mas Wanto berhasil memiliki dua motor dari beli baru. Adapun kegiatan laundrinya di huntap masih terus berjalan.
Ya, berkah pasir merapi telah merubah kehidupan mbak Sri dan keluarganya menjadi lebih baik yang tentu saja dilalui dengan bekerja keras, karena Alloh SWT tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang akan merubah nasibnya.
Sleman, Minggu 6 Maret 2016
Pk 16.10 WIB

TENTANG KEDIAMAN KAMI

Repost tulisan di facebook 18 Januari 2016
Sekitar 2,5 tahun ini, kami telah pindah rumah ke tempat kediaman kami yang sekarang, meski kondisi rumahnya baru jadi 70 %. Kebetulan rumah yang sekarang ditempati dekat dengan kantor saya, sekitar 200 mtr saja.
Sebelum pindah kesini, banyak hal yang telah kami lalui sebelum akhirnya kami memutuskan menetap di tempat ini.
Beberapa bulan setelah saya menikah pada April 2004, Eyang Pujo almh mantan ibu kost saya yang rumahnya di depan kantor saya, menginformasikan tanah milik ayah Apri yang akan dijual. Apri adalah anak SMA Pakem asal Palembang waktu itu yang kost juga di Eyang Pujo dipavilyun sebelah luar, sedangkan saya kost di dalam rumah bersama Eyang.
Jadi tanah tsb milik orang Palembang yang membeli utk investasi lalu dijual lagi.
Kebetulan waktu itu Pak Gunawan suami saya mendapatkan fasilitas dari kantornya yaitu kredit Pitung atau pinjaman tunggal sebesar 75 jt. Kebetulan syarat pinjaman tsb adalah harus dibelikan properti tanah atau rumah dengan bunga ringan yang dapat dicicil sampai masa pensiun.
Awalnya kami tidak terlalu tertarik karena lahannya terlalu luas untuk kami dan uangnya juga tidak cukup. Untuk luas 977 m2, mereka menawarkan135jt. Namun mas Didik kakak Apri yang kebetulan khusus datang dari Palembang terus merayu kami, bahwa tanah tsb strategis dan dekat kantor saya.
Akhirnya setelah tawar menawar disepakati harga jualnya 130 jt atau 135 ribu per meter dan kami cicil selama hampir satu tahun dari Bulan Agustus 2004. Untuk menutupi kekurangan dana 55 jt suami saya menjual seluruh sapinya, jual motor kesayangan, jual saham dan menambah kredit lagi di BRI Syariah Yogyakarta. Pokoknya nekat waktu itu.
Adapun pada saat yang sama kami juga sedang merehab rumah tipe 36 / 90 di Perum Gajahmada Asri, Turi yang saya beli sebelum menikah 20 jt dari Pak Edi Suprapto suami mb Siti Nurhayati teman kantor saya dengan melanjutkan cicilan 150 ribu per bulan selama 15 thn, namun kemudian saya tutup kira2 13 jt dengan biaya sertifikatnya. Sumber dana saya peroleh dari penjualan sawah Bapak alm di Kutoarjo dan rehabnya juga patungan dengan suami.
Prinsip kami waktu itu adalah sesegera mungkin kami mempunyai tempat tinggal sendiri meskipun di pinggiran kota yang sepi sesuai anggaran yang kami miliki sebelum nantinya kami tidak sanggup membelinya karena harga tanah yang terus merangkak naik.
Akhirnya kami pun menempati rumah di Gajahmada Asri saat si sulung dek Dafa berusia 1 bulan. Selama 7,5 thn hingga anak ketiga kami tinggal disana dalam suasana damai, tetangga yang rukun dan lingkungan yang sudah terbentuk dengan baik.
Namun ketika kami harus menerima kenyataan si sulung harus bersekolah di sekolah inklusi di kota, maka kami mulai berpikir untuk pindah rumah. Tanah Pakem yang selama masa tersebut kami tanami dengan pisang, kami putuskan untuk dijual. Apalagi setelah kejadian erupsi gunung merapi tahun 2009, mengingat letaknya sekitar 12-15 km saja dr Gunung Merapi.
Hal aneh terjadi. Beberapa kali kami mencoba transaksi dengan orang untuk penjualan tanah tsb, terakhir dengan harga 355 jt di tahun 2010. Namun sering tidak jadi karena berbagai hal. Ibaratnya tanah tsb seperti tidak mau berpisah dengan kami.
Lalu Om Indartono, adik ibu almh menasehati kami untuk tidak menjual tanah tsb, karena tanah itu pulung. Jarang orang jaman sekarang mempunyai lahan yang luas. Apalagi lokasinya dekat kantor dan strategis. Maka kami pun setelah sempat mengontrak di daerah Dayu jakal km 8 selama 1 tahun sebesar 14 jt, memutuskan untuk membangun rumah di Pakem dengan pertimbangan lokasi sekolah Dafa masih terjangkau. Ayah mengambil kredit KPR untuk itu, juga dibantu mertua yang menebang banyak kayu di kebun untuk kami. Adapun rumah yang dulu sementara masih dikontrakkan. Ada banyak kenangan disitu sehingga saya masih berpikir lagi untuk menjualnya.
Dan inilah rumah yang kami tempati sekarang. Tidak pernah terpikir sebelumnya akan menempati lahan seluas 977m2 yang belakangnya mewah alias mepet sawah. Karena masih banyak tersisa lahan, maka kami manfaatkan untuk menanam tanaman buah, sayur dan membuat kolam ikan. Kami pasrah seandainya terjadi lagi erupsi gunung merapi, maka kami akan bersiap mengungsi kembali.
Serasa semua sudah diatur oleh yang diatas. Kita manusia hanya mengikuti apa yang telah menjadi garis tangan hidup kita yang fana ini. Harta hanyalah titipan yang sewaktu waktu dapat diambilNya dan kehidupan akherat yang kekal lah tempat kita akan kembali.
Sleman, 18 Januari 2016
Pk. 02.25 dini hari.

KISAH TANAMAN BUAH DI RUMAH

Repost tulisan di facebook 24 Desember 2015

Suatu hari pada waktu kami baru beberapa bulan pindah ke rumah ini sekitar 2,5 tahun yang lalu, seorang bapak tua bertamu ke rumah dan menawarkan tanaman buah buahan yang dia jual.
Waktu itu karena kami masih repot pindahan disaat rumah masih jadi 50 % tapi sudah mulai ditempati dan masih memikirkan tukang, maka kami pun belum kepikiran untuk tanam menanam di sisa lahan di samping, depan maupun belakang rumah.
" Bapak dan ibu nggak usah mikir bagaimana menanamnya. Nanti harga tanaman sudah termasuk jasa menanam dan saya beri pupuk kandang sekalian dan garansi 1 bulan. Kalau saya tengok tanamannya ada yang mati akan saya ganti. Sayang lho bu kalau halamannya tidak dimanfaatkan. " begitu katanya seolah mengerti kerepotan kami.
Wah, boleh juga nih tawarannya. Disaat banyak orang mulai melakukan penjualan tanaman secara online melalui internet, sang bapak tua yang mungkin tidak mengenal dunia maya mempunyai kreatifitas yang lain dalam rangka menjual tanamannya dengan cara jemput bola dari rumah ke rumah.
Jadilah kami membeli pohon buah buahan seperti srikaya, jambu air, sirsat,manggis, durian, ace, mangga, jeruk dll, ada batang batang singkong juga yang langsung ditanam dan dipupuk olehnya hingga dua karung pupuk kandang yang dikerjakannya dalam waktu 3 hari.
Dua tahun berlalu, beberapa pohon mulai berbuah. Terutama singkong yang selama ini sudah kami nikmati hasilnya. Seperti juga pagi ini ketika srikaya jumbo yang baru belajar berbuah cuma satu biji berhasil dipetik dek fajar karena sudah matang di pohon.
Adapun sang bapak tua, kami nggak tahu kabarnya lagi. Namun kami masih terus mengingatnya sebagai orang yang turut berjasa dengan adanya tanaman buah di halaman rumah kami. Semoga selalu sehat dan terus laku jualannya ya Pak.

TENTANG KEHIDUPAN DI LOKALISASI SK

Repost tulisan di facebook 18 Februari 2016

Heboh rencana penutupan lokalisasi Kalijodo di Jakarta oleh Gubernur DKI Basuki Cahaya Purnama setelah sebelumnya diawali dengan penutupan lokalisasi Dolly oleh Ibu Risma walikota Surabaya sekitar 2 tahun lalu, mengingatkan saya dengan sebuah lokalisasi di Kota Semarang yang mungkin menunggu giliran yang sama entah kapan waktunya.
Sebelum menjadi PNS, pada tahun 2000 - 2001 saya pernah bekerja di LSM LP2K atau Lembaga Pembinaan Perlindungan Konsumen di daerah Jl Taman Borobudur Utara Manyaran Semarang, dan kebetulan juga kost di sekitar wilayah tsb.
Saat itu saya pernah melihat dari dekat kehidupan kompleks lokalisasi terbesar di kota Semarang yaitu Lokalisasi Sunan Kuning atau terkenal dengan sebutan "SK". Kebetulan saya kost di RW 2, sedangkan "SK" atau dalam nama resminya Kompleks Resosialisasi Argorejo waktu itu terlokalisir di wilayah RW 4 Kelurahan Kalibanteng Kulon Semarang Barat. Konon SK sudah ada sejak tahun 1966 dan lokasinya dari bundaran Kalibanteng (Bandara A Yani) masuk ke barat 200 mtr lalu masuk gang lagi 100mtr.
Saya yang waktu itu bekerja sebagai NE atau Nutrision Edukator bertugas memberi penyuluhan gizi dan mengenalkan makanan pendamping ASI Delvita berikut paket bantuan untuk ibu ibu balita dari WFP atau World Food Programme dan kebetulan mendapatkan wilayah kerja salah satunya di kompleks "SK". Penyuluhan dilakukan saat pertemuan posyandu di rumah warga atau di aula kelurahan.
Awalnya saya tidak tahu tempat tersebut, namun kemudian diberitahu oleh mas Adri dan mas Dawud teman di LP2K waktu itu, bahkan awal awalnya sempat diantar mas Dawud mengunjungi wilayah tsb, juga masuk ke pertemuan kader posyandu bersama Hetty dan Mas Dawud.
Pada waktu itu jalan - jalan antar gangnya tidak terlalu bagus dan tidak terlalu ramai pada siang hari. Mbak mbak PSK atau Pekerja Seks Komersial juga maminya (mucikari) tampak santai di depan wismanya di siang hari sembari ngobrol, merokok dan berbaju minim adalah pemandangan sehari hari disana. Banyak yang saya lihat umur PSKnya masih remaja entah berasal darimana. Ada juga anak - anak disana bermain main. Dan diantara deretan rumah yang ada, maka untuk membedakan dengan wisma lokalisasi, rumah tersebut bertuliskan " KELUARGA". Jadi kasihan sebenarnya anak anak yang tinggal di wilayah itu.
Kendaraan yang biasa parkir disana waktu itu umumnya adalah truk dan taksi. Sudah menjadi hal yang biasa terjadi bahwa para supir truk antar kota yang berhari hari menempuh perjalanan jauh meninggalkan keluarga, maka bagi yang tidak kuat imannya termasuk mereka yang sering mampir "jajan" salah satunya di wilayah "SK".
Keadaan SK menjadi berubah ketika sore menjelang malam tiba. Karena penasaran pernah saya mencoba melewati kompleks itu saat maghrib menjelang, sendirian doang. Kalau ingat itu wah, saya dulu kok berani sekali ya. Hi hi. Yang jelas suasana menjelang malam menjadi ramai, banyak penjual makanan, suara musik dangdut yang kenceng dari warung warung makanan. Tak lupa para tamu Pria mulai berdatangan diawali dengan ngobrol ngobrol dengan mbak mbak PSK yang sudah berdandan sejak sore hari.
Uniknya, di wilayah SK ini juga ada sebuah masjid yaitu masjid Al Hidayah di kanan pintu masuk. Dan pada bulan Ramadhan kompleks ini tutup dan sepi karena banyak PSK yang pulang kampung.
Menurut data yang saya ambil dari mbah Google. Dari data LSM Griya Asa pada Desember 2014, SK dihuni 759 PSK dan158 mucikari serta158 wisma. Rata rata tiap PSK melayani 1-5 orang per malam dengan tarif 100 sd 200 ribu. Ada pemeriksaan rutin HIV, dan PSK yang terinfeksi HIV dipulangkan.
Ya, bagaimanapun keadaannya itulah realita sampai saat ini bahwa praktek prostitusi baik penyedia maupun pengguna jasanya selalu saja ada dari waktu ke waktu, dari jaman ke jaman. Ada yang bertobat, ada juga yang terjerumus. Upaya pemerintah daerah untuk menutup lokalisasi secara bertahap di wilayahnya masing masing menjadi hal yang patut diapresiasi, terlebih dengan memberikan solusi supaya mereka mendapatkan pekerjaan pengganti yang lebih layak dan halal.
Semoga suatu hari ketika saya berkesempatan berkunjung kesana lagi, tempat yang dulu saya pernah dekat tersebut mengalami perubahan dan tidak ada lagi kegiatan prostitusi disana seperti bubarnya Dolly di Surabaya dan berikutnya Kalijodo di Jakarta.
Ya, saat ini saya hanya bisa turut berdoa untuk kehidupan mereka yang lebih baik.
Sleman, 17 Februari 2016
Pk 24.47 WIB

ANTARA MAHASISWI DAN PRT


Repost tulisan 18 Februari 2013 di facebook tuti handayu

Sejak awal menikah kami selalu menggunakan jasa mereka, karena kami berdua, saya dan suami sama – sama bekerja kantoran. Banyak sekali suka duka kami mempunyai PRT. Namun dari sekian banyak mbak PRT yang pernah tinggal dengan kami, diantaranya ada yang mempunyai kesan mendalam bagi kami
Saat itu pasca erupsi merapi, dan sudah kembali dari mengungsi, kami agak kesulitan mencari PRT lagi, karena mbaknya pulang dan mungkin masih takut berada di wilayah Sleman.
Selama ini jalan cepat kami mencari PRT adalah dengan memasang iklan lowongan kerja di harian kedaulatan rakyat, misalnya : “Dibutuhkan PRT utk klg, muslimah, bs momong, tg jwb, tidur dalam, gaji sekian, hub no ini, dsb”
Tidak seperti biasanya yang selalu ada respon cepat sampai beberapa orang, waktu itu hanya ada satu orang menghubungi saya, namanya Mbak Ayda, 21 tahun, asal Jepara. Uniknya, dia adalah seorang mahasiswi dari FE UII Jln Kaliurang Km 14, Yogyakarta, semester 4 waktu itu.
“ Apa enggak salah mbak, mau bekerja di tempat saya?” tanya saya waktu itu lewat Hape
“ Enggak bu, saya memang membutuhkan pekerjaan. Sekarang saya sedang cuti kuliah, Saya berharap ibu mau membantu saya”
Setelah saya dengan suami berdiskusi, akhirnya kami putuskan untuk menjemputnya di tempat kostnya dekat kampus, kira-kira 10 km dari rumah kami. Lagipula, saat itu kami memang sangat membutuhkan, karena saya tidak bisa terus menerus ijin kantor karena tidak ada PRT.
Begitulah, sejak saat itu Mbak Ayda membantu keluarga kami, dia tanpa canggung bekerja membersihkan rumah, mencuci dan menyetrika baju, membantu memasak dan tanpa diminta ikut membantu Dafa dan Fajar belajar maupun mengajak mereka bermain di kamarnya. Kerjanya bagus, bersih dan rajin
Suatu hari saya berkesempatan mengobrol dengan dia, mengapa dia cuti kuliah untuk bekerja.
“ Sebenarnya saya ini kayaknya salah ambil tempat kuliah e Bu,.. Awalnya, setelah lulus SMA, saya memang pengin banget kuliah. Di desa saya hanya 3 orang yang kuliah, termasuk saya, dan saya satu2nya perempuan. Teman sekampung saya sudah banyak yang menikah dan punya anak. Jadi disana saya sudah dianggap perawan tua. Tapi saya nggak ingin seperti mereka, saya ingin perubahan dan ingin maju Bu ”
Saya tersenyum mendengarnya.
Saya jadi teringat pada tahun 2000 saya pernah mendapat pekerjaan freelance dengan membantu penelitian tentang kesehatan reproduksi di Jepara selama hampir 2 bulan. Memang waktu itu diantara responden saya, merupakan perempuan2 muda usia 16 – 19 tahun, tapi mereka sudah menikah dan punya anak. Saya tidak menyangka ternyata hal itu masih terjadi sampai 11 tahun kemudian saat Mbak Ayda menceritakan hal tsb
“ Lalu saya membaca di koran ada kuliah gratis di STIE Hamfara Yogyakarta, tapi harus tinggal di asrama disana. Saya sempat kuliah 2 semester, tapi di kemudian hari, ternyata kuliahnya tidak benar2 gratis hanya sebutannya saja yang berbeda, iuran atau infak, dan jatuhnya cukup mahal bagi saya yang orangtuanya petani dan ibu berdagang di pasar. Selain itu saya tidak puas dengan sistemnya, lalu saya mencari universitas lain yang bisa menerima transfer supaya tidak mengulang dari nol lagi, ternyata yang bisa nerima transferan hanya UII Bu, lalu saya pindah ke UII. Tapi baru satu semester, saya kehabisan uang bu, karena biaya hidup disini cukup tinggi buat saya, minimal 700ribu, itu sudah ngirit banget. Belum biaya kuliahnya, ternyata UII itu tempat kuliahnya anak – anak orang kaya” Lanjutnya
“ Selama saya cuti kuliah, saya bermaksud bekerja mengumpulkan uang untuk kelanjutan kuliah saya. Kemarin sebelum di tempat ibu, saya sempat kerja di pabrik di Semarang. Dan dua bulan lagi kuliah semester depan akan mulai, tapi saya tidak bisa ambil cuti lagi, jadi nanti beberapa hari sebelum saya mulai kuliah lagi, saya mau pamit, dan ibu bisa bersiap mencari pembantu lagi.”
Begitulah, Mbak Ayda sempat dua kali membantu di tempat kami, pada waktu cuti kuliah saat saya masih hamil anak ketiga dan semester depannya lagi pada waktu libur kuliah saat dik Safira anak ketiga kami sudah lahir dan berumur 1 bulan. Memang dia hanya bisa membantu yang sifatnya sementara saja.
Selama ikut kami, pernah juga Mbak Ayda menderita sakit demam tinggi dan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Untung saya dan Bapak sedang libur waktu itu. Akhirnya kami pun merawat Mb Ayda dengan membelikan obat, membawakan makanan dan minuman dan membebaskannya dari segala pekerjaan rumah. Kami sempat was – was, bagaimana kalau sampai parah, sedang saat itu teman2nya sedang libur semester. Orangtuanya juga jauh.Tapi untungnya keesokan harinya keadaannya berangsur membaik.
Suatu hari saya juga sempat bertanya kepada Mbak Ayda, apa teman kuliahnya tahu dia melakukan ini?
“ Beberapa tahu Bu, dan mereka tidak mempermasalahkan, malah mereka banyak membantu aku Bu, Mereka anak – anak orang kaya yang ke kampus saja bawa mobil honda jazz, avanza dsb, tapi mereka baik – baik kok Bu. Nggak sombong, dan menerima saya apa adanya.”
Melihat Mbak Ayda, saya seperti mengaca pada diri saya sendiri waktu kuliah dulu. Saya dulu juga begitu, Saya begitu bersusah payah untuk bisa menyelesaikan kuliah S1 saya karena keadaan ekonomi orangtua yang tidak memungkinkan waktu itu. Bapak sudah meninggal tahun 1993 dan ibu sakit –sakitan. Dengan berhutang kesana kemari, disokong dan dibantu sana – sini oleh keluarga besar serta berusaha mencari penghasilan tambahan, akhirnya saya bisa menyelesaikan kuliah demi suatu tekad untuk menginginkan perubahan hidup yang lebih baik. Sampai saat ini saya kadang masih tidak percaya apabila membandingkan keadaan saya yang dulu dan sekarang. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah,...
Saya dulu juga mempunyai teman – teman kuliah yang sangat baik, yang mempunyai taraf ekonomi yang lebih tinggi, namun tidak sombong dan menerima saya apa adanya, bahkan banyak diantara mereka sering membantu dan memperhatikan saya. Sampai saat ini saya masih sering merindukan kebersamaan dengan mereka. Karena jarak dan waktu menyebabkan kami tidak bisa sering – sering bersua.
Mungkin bedanya dengan Mb Ayda, dulu saya tidak kepikiran,.. untuk jadi PRT 🙂
Sampai saat ini saya dan mb Ayda masih sering saling tanya kabar melalui sms.
Saya hanya bisa berdoa, semoga Mbak Ayda bisa mengejar cita – citanya untuk maju dan memperoleh masa depan yang lebih baik.