Repost tulisan 18 Februari 2013 di facebook tuti handayu
Sejak awal menikah kami selalu menggunakan jasa mereka, karena kami berdua, saya dan suami sama – sama bekerja kantoran. Banyak sekali suka duka kami mempunyai PRT. Namun dari sekian banyak mbak PRT yang pernah tinggal dengan kami, diantaranya ada yang mempunyai kesan mendalam bagi kami
Selama ini jalan cepat kami mencari PRT adalah dengan memasang iklan lowongan kerja di harian kedaulatan rakyat, misalnya : “Dibutuhkan PRT utk klg, muslimah, bs momong, tg jwb, tidur dalam, gaji sekian, hub no ini, dsb”
Tidak seperti biasanya yang selalu ada respon cepat sampai beberapa orang, waktu itu hanya ada satu orang menghubungi saya, namanya Mbak Ayda, 21 tahun, asal Jepara. Uniknya, dia adalah seorang mahasiswi dari FE UII Jln Kaliurang Km 14, Yogyakarta, semester 4 waktu itu.
“ Apa enggak salah mbak, mau bekerja di tempat saya?” tanya saya waktu itu lewat Hape
“ Enggak bu, saya memang membutuhkan pekerjaan. Sekarang saya sedang cuti kuliah, Saya berharap ibu mau membantu saya”
Setelah saya dengan suami berdiskusi, akhirnya kami putuskan untuk menjemputnya di tempat kostnya dekat kampus, kira-kira 10 km dari rumah kami. Lagipula, saat itu kami memang sangat membutuhkan, karena saya tidak bisa terus menerus ijin kantor karena tidak ada PRT.
Begitulah, sejak saat itu Mbak Ayda membantu keluarga kami, dia tanpa canggung bekerja membersihkan rumah, mencuci dan menyetrika baju, membantu memasak dan tanpa diminta ikut membantu Dafa dan Fajar belajar maupun mengajak mereka bermain di kamarnya. Kerjanya bagus, bersih dan rajin
Suatu hari saya berkesempatan mengobrol dengan dia, mengapa dia cuti kuliah untuk bekerja.
“ Sebenarnya saya ini kayaknya salah ambil tempat kuliah e Bu,.. Awalnya, setelah lulus SMA, saya memang pengin banget kuliah. Di desa saya hanya 3 orang yang kuliah, termasuk saya, dan saya satu2nya perempuan. Teman sekampung saya sudah banyak yang menikah dan punya anak. Jadi disana saya sudah dianggap perawan tua. Tapi saya nggak ingin seperti mereka, saya ingin perubahan dan ingin maju Bu ”
Saya tersenyum mendengarnya.
Saya jadi teringat pada tahun 2000 saya pernah mendapat pekerjaan freelance dengan membantu penelitian tentang kesehatan reproduksi di Jepara selama hampir 2 bulan. Memang waktu itu diantara responden saya, merupakan perempuan2 muda usia 16 – 19 tahun, tapi mereka sudah menikah dan punya anak. Saya tidak menyangka ternyata hal itu masih terjadi sampai 11 tahun kemudian saat Mbak Ayda menceritakan hal tsb
“ Lalu saya membaca di koran ada kuliah gratis di STIE Hamfara Yogyakarta, tapi harus tinggal di asrama disana. Saya sempat kuliah 2 semester, tapi di kemudian hari, ternyata kuliahnya tidak benar2 gratis hanya sebutannya saja yang berbeda, iuran atau infak, dan jatuhnya cukup mahal bagi saya yang orangtuanya petani dan ibu berdagang di pasar. Selain itu saya tidak puas dengan sistemnya, lalu saya mencari universitas lain yang bisa menerima transfer supaya tidak mengulang dari nol lagi, ternyata yang bisa nerima transferan hanya UII Bu, lalu saya pindah ke UII. Tapi baru satu semester, saya kehabisan uang bu, karena biaya hidup disini cukup tinggi buat saya, minimal 700ribu, itu sudah ngirit banget. Belum biaya kuliahnya, ternyata UII itu tempat kuliahnya anak – anak orang kaya” Lanjutnya
“ Selama saya cuti kuliah, saya bermaksud bekerja mengumpulkan uang untuk kelanjutan kuliah saya. Kemarin sebelum di tempat ibu, saya sempat kerja di pabrik di Semarang. Dan dua bulan lagi kuliah semester depan akan mulai, tapi saya tidak bisa ambil cuti lagi, jadi nanti beberapa hari sebelum saya mulai kuliah lagi, saya mau pamit, dan ibu bisa bersiap mencari pembantu lagi.”
Begitulah, Mbak Ayda sempat dua kali membantu di tempat kami, pada waktu cuti kuliah saat saya masih hamil anak ketiga dan semester depannya lagi pada waktu libur kuliah saat dik Safira anak ketiga kami sudah lahir dan berumur 1 bulan. Memang dia hanya bisa membantu yang sifatnya sementara saja.
Selama ikut kami, pernah juga Mbak Ayda menderita sakit demam tinggi dan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Untung saya dan Bapak sedang libur waktu itu. Akhirnya kami pun merawat Mb Ayda dengan membelikan obat, membawakan makanan dan minuman dan membebaskannya dari segala pekerjaan rumah. Kami sempat was – was, bagaimana kalau sampai parah, sedang saat itu teman2nya sedang libur semester. Orangtuanya juga jauh.Tapi untungnya keesokan harinya keadaannya berangsur membaik.
Suatu hari saya juga sempat bertanya kepada Mbak Ayda, apa teman kuliahnya tahu dia melakukan ini?
“ Beberapa tahu Bu, dan mereka tidak mempermasalahkan, malah mereka banyak membantu aku Bu, Mereka anak – anak orang kaya yang ke kampus saja bawa mobil honda jazz, avanza dsb, tapi mereka baik – baik kok Bu. Nggak sombong, dan menerima saya apa adanya.”
Melihat Mbak Ayda, saya seperti mengaca pada diri saya sendiri waktu kuliah dulu. Saya dulu juga begitu, Saya begitu bersusah payah untuk bisa menyelesaikan kuliah S1 saya karena keadaan ekonomi orangtua yang tidak memungkinkan waktu itu. Bapak sudah meninggal tahun 1993 dan ibu sakit –sakitan. Dengan berhutang kesana kemari, disokong dan dibantu sana – sini oleh keluarga besar serta berusaha mencari penghasilan tambahan, akhirnya saya bisa menyelesaikan kuliah demi suatu tekad untuk menginginkan perubahan hidup yang lebih baik. Sampai saat ini saya kadang masih tidak percaya apabila membandingkan keadaan saya yang dulu dan sekarang. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah,...
Saya dulu juga mempunyai teman – teman kuliah yang sangat baik, yang mempunyai taraf ekonomi yang lebih tinggi, namun tidak sombong dan menerima saya apa adanya, bahkan banyak diantara mereka sering membantu dan memperhatikan saya. Sampai saat ini saya masih sering merindukan kebersamaan dengan mereka. Karena jarak dan waktu menyebabkan kami tidak bisa sering – sering bersua.
Mungkin bedanya dengan Mb Ayda, dulu saya tidak kepikiran,.. untuk jadi PRT 
Sampai saat ini saya dan mb Ayda masih sering saling tanya kabar melalui sms.
Saya hanya bisa berdoa, semoga Mbak Ayda bisa mengejar cita – citanya untuk maju dan memperoleh masa depan yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar