Repost tulisan di facebook 18 Januari 2016
Sekitar 2,5 tahun ini, kami telah pindah rumah ke tempat kediaman kami yang sekarang, meski kondisi rumahnya baru jadi 70 %. Kebetulan rumah yang sekarang ditempati dekat dengan kantor saya, sekitar 200 mtr saja.
Sebelum pindah kesini, banyak hal yang telah kami lalui sebelum akhirnya kami memutuskan menetap di tempat ini.
Beberapa bulan setelah saya menikah pada April 2004, Eyang Pujo almh mantan ibu kost saya yang rumahnya di depan kantor saya, menginformasikan tanah milik ayah Apri yang akan dijual. Apri adalah anak SMA Pakem asal Palembang waktu itu yang kost juga di Eyang Pujo dipavilyun sebelah luar, sedangkan saya kost di dalam rumah bersama Eyang.
Jadi tanah tsb milik orang Palembang yang membeli utk investasi lalu dijual lagi.
Kebetulan waktu itu Pak Gunawan suami saya mendapatkan fasilitas dari kantornya yaitu kredit Pitung atau pinjaman tunggal sebesar 75 jt. Kebetulan syarat pinjaman tsb adalah harus dibelikan properti tanah atau rumah dengan bunga ringan yang dapat dicicil sampai masa pensiun.
Awalnya kami tidak terlalu tertarik karena lahannya terlalu luas untuk kami dan uangnya juga tidak cukup. Untuk luas 977 m2, mereka menawarkan135jt. Namun mas Didik kakak Apri yang kebetulan khusus datang dari Palembang terus merayu kami, bahwa tanah tsb strategis dan dekat kantor saya.
Akhirnya setelah tawar menawar disepakati harga jualnya 130 jt atau 135 ribu per meter dan kami cicil selama hampir satu tahun dari Bulan Agustus 2004. Untuk menutupi kekurangan dana 55 jt suami saya menjual seluruh sapinya, jual motor kesayangan, jual saham dan menambah kredit lagi di BRI Syariah Yogyakarta. Pokoknya nekat waktu itu.
Adapun pada saat yang sama kami juga sedang merehab rumah tipe 36 / 90 di Perum Gajahmada Asri, Turi yang saya beli sebelum menikah 20 jt dari Pak Edi Suprapto suami mb Siti Nurhayati teman kantor saya dengan melanjutkan cicilan 150 ribu per bulan selama 15 thn, namun kemudian saya tutup kira2 13 jt dengan biaya sertifikatnya. Sumber dana saya peroleh dari penjualan sawah Bapak alm di Kutoarjo dan rehabnya juga patungan dengan suami.
Prinsip kami waktu itu adalah sesegera mungkin kami mempunyai tempat tinggal sendiri meskipun di pinggiran kota yang sepi sesuai anggaran yang kami miliki sebelum nantinya kami tidak sanggup membelinya karena harga tanah yang terus merangkak naik.
Akhirnya kami pun menempati rumah di Gajahmada Asri saat si sulung dek Dafa berusia 1 bulan. Selama 7,5 thn hingga anak ketiga kami tinggal disana dalam suasana damai, tetangga yang rukun dan lingkungan yang sudah terbentuk dengan baik.
Namun ketika kami harus menerima kenyataan si sulung harus bersekolah di sekolah inklusi di kota, maka kami mulai berpikir untuk pindah rumah. Tanah Pakem yang selama masa tersebut kami tanami dengan pisang, kami putuskan untuk dijual. Apalagi setelah kejadian erupsi gunung merapi tahun 2009, mengingat letaknya sekitar 12-15 km saja dr Gunung Merapi.
Hal aneh terjadi. Beberapa kali kami mencoba transaksi dengan orang untuk penjualan tanah tsb, terakhir dengan harga 355 jt di tahun 2010. Namun sering tidak jadi karena berbagai hal. Ibaratnya tanah tsb seperti tidak mau berpisah dengan kami.
Lalu Om Indartono, adik ibu almh menasehati kami untuk tidak menjual tanah tsb, karena tanah itu pulung. Jarang orang jaman sekarang mempunyai lahan yang luas. Apalagi lokasinya dekat kantor dan strategis. Maka kami pun setelah sempat mengontrak di daerah Dayu jakal km 8 selama 1 tahun sebesar 14 jt, memutuskan untuk membangun rumah di Pakem dengan pertimbangan lokasi sekolah Dafa masih terjangkau. Ayah mengambil kredit KPR untuk itu, juga dibantu mertua yang menebang banyak kayu di kebun untuk kami. Adapun rumah yang dulu sementara masih dikontrakkan. Ada banyak kenangan disitu sehingga saya masih berpikir lagi untuk menjualnya.
Dan inilah rumah yang kami tempati sekarang. Tidak pernah terpikir sebelumnya akan menempati lahan seluas 977m2 yang belakangnya mewah alias mepet sawah. Karena masih banyak tersisa lahan, maka kami manfaatkan untuk menanam tanaman buah, sayur dan membuat kolam ikan. Kami pasrah seandainya terjadi lagi erupsi gunung merapi, maka kami akan bersiap mengungsi kembali.
Serasa semua sudah diatur oleh yang diatas. Kita manusia hanya mengikuti apa yang telah menjadi garis tangan hidup kita yang fana ini. Harta hanyalah titipan yang sewaktu waktu dapat diambilNya dan kehidupan akherat yang kekal lah tempat kita akan kembali.
Sleman, 18 Januari 2016
Pk. 02.25 dini hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar