Repost tulisan di Facebook : 5 Februari 2016
Minggu lalu sejak Rabu sampai Sabtu dik Fajar tidak sekolah karena sakit. Tidak seperti biasanya, kemarin ini sakitnya agak mengkhawatirkan. Anaknya demam tinggi. Diberi penurun panas, turun lalu naik lagi. Begitu terus. Tapi anaknya menggigil kedinginan padahal badannya panas tinggi. Tiap kali makan muntah dan kalau jalan mengeluh sakit, lemas, pusing dan akhirnya tiduran terus. Tapi nggak mau ke dokter karena takut disuntik.
Jumat sore minggu lalu, anaknya mau saya bujuk pergi ke RSU terdekat, karena saya khawatir sekarang lagi musimnya sakit demam berdarah atau kena tipus. Setelah tes darah, memang belum menunjukkan sakit DB atau tidak karena baru 3 hr, namun terindikasi ada infeksi sehingga diberi obat yang mengandung antibiotik dan alhamdulillah sekarang sudah sembuh.
Pada saat dibawa ke RS, anaknya lemas jadi kasihan kalau dibonceng motor sendiri. Belum si bungsu rewel minta ikut juga kakaknya. Jadilah kami semua akhirnya pergi berlima ikut semua. Saya, anak tiga dan mbak PRT.
Sampe disini saya baru menyadari bahwa saya beruntung karena disaat keadaan darurat membutuhkan, saat suami masih di kantor, saya bisa mengatasinya karena saya bisa mengemudikan kendaraan roda empat.
Sebelumnya, selama 3 tahun sejak 2006 sd 2009 saya trauma menyetir mobil akibat insiden menabrak pagar tembok tetangga sampai ambruk. Waktu itu sepulang dari bepergian pada waktu mau masuk gang ke perumahan tempat tinggal kami saat itu, ternyata saat belok ada gundukan pasir di tepi jalan dan ada rombongan anak anak pulang TPA yang lewat. Walhasil karena panik, saya yang mulai belajar nyopir di tahun 2005 reflek membanting setir ke kiri tapi bukannya menginjak rem malah menginjak gas.
Ya sudahlah. Tembok rumah tetangga yang kebetulan kosong itupun ambrol dan bagian depan mobil carry careta waktu itu ringsek. Saya menghabiskan 4 juta untuk servis mobil dan 1,5 jt untuk memperbaiki tembok. Setelah itu saya nggak mau pegang stir lagi, meskipun ayah mau membantu.
Sampai suatu hari di tahun 2009, Pak Suparman pengemudi di kantor saya dalam suatu obrolan menyarankan saya untuk belajar stir dan beliau bersedia membantu. Karena sudah tiga tahun nggak pegang, saya pun mulai belajar dari awal lagi dengan beliau meski awalnya timbul keringat dingin karena ingat kejadian tempo hari
" Bu, untuk lebih mudahnya, bayangkan tubuh kita menyatu dengan kendaraan ini. Dan kitalah yang akan mengendalikannya " begitu saran beliau.
Setelah belajar di lapangan, dilanjutkan selama satu minggu Pak Parman mendampingi saya membawa mobil ke kantor. Jadi beliau dari rumah motornya dititipkan rumah saya. Lalu bersama sama pergi ke kantor dimana saya nyupir dan beliau disamping saya memberi arahan dengan sabar. Begitu juga saat pulang beliau ikut mobil saya
Alhamdulillah dengan semboyan kita bisa karena terbiasa, saya kembali bisa mengemudikan roda 4 sampai sekarang meski nggak berani terlalu kenceng. Dan yang lebih penting saya bisa "Move On" dari kejadian tabrakan waktu itu dan bisa mengatasi masalah disaat membutuhkannya. Tak lupa terimakasih untuk Pak Parman yang banyak membantu saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar