Sabtu, 30 Juli 2022

TENTANG KEHIDUPAN DI LOKALISASI SK

Repost tulisan di facebook 18 Februari 2016

Heboh rencana penutupan lokalisasi Kalijodo di Jakarta oleh Gubernur DKI Basuki Cahaya Purnama setelah sebelumnya diawali dengan penutupan lokalisasi Dolly oleh Ibu Risma walikota Surabaya sekitar 2 tahun lalu, mengingatkan saya dengan sebuah lokalisasi di Kota Semarang yang mungkin menunggu giliran yang sama entah kapan waktunya.
Sebelum menjadi PNS, pada tahun 2000 - 2001 saya pernah bekerja di LSM LP2K atau Lembaga Pembinaan Perlindungan Konsumen di daerah Jl Taman Borobudur Utara Manyaran Semarang, dan kebetulan juga kost di sekitar wilayah tsb.
Saat itu saya pernah melihat dari dekat kehidupan kompleks lokalisasi terbesar di kota Semarang yaitu Lokalisasi Sunan Kuning atau terkenal dengan sebutan "SK". Kebetulan saya kost di RW 2, sedangkan "SK" atau dalam nama resminya Kompleks Resosialisasi Argorejo waktu itu terlokalisir di wilayah RW 4 Kelurahan Kalibanteng Kulon Semarang Barat. Konon SK sudah ada sejak tahun 1966 dan lokasinya dari bundaran Kalibanteng (Bandara A Yani) masuk ke barat 200 mtr lalu masuk gang lagi 100mtr.
Saya yang waktu itu bekerja sebagai NE atau Nutrision Edukator bertugas memberi penyuluhan gizi dan mengenalkan makanan pendamping ASI Delvita berikut paket bantuan untuk ibu ibu balita dari WFP atau World Food Programme dan kebetulan mendapatkan wilayah kerja salah satunya di kompleks "SK". Penyuluhan dilakukan saat pertemuan posyandu di rumah warga atau di aula kelurahan.
Awalnya saya tidak tahu tempat tersebut, namun kemudian diberitahu oleh mas Adri dan mas Dawud teman di LP2K waktu itu, bahkan awal awalnya sempat diantar mas Dawud mengunjungi wilayah tsb, juga masuk ke pertemuan kader posyandu bersama Hetty dan Mas Dawud.
Pada waktu itu jalan - jalan antar gangnya tidak terlalu bagus dan tidak terlalu ramai pada siang hari. Mbak mbak PSK atau Pekerja Seks Komersial juga maminya (mucikari) tampak santai di depan wismanya di siang hari sembari ngobrol, merokok dan berbaju minim adalah pemandangan sehari hari disana. Banyak yang saya lihat umur PSKnya masih remaja entah berasal darimana. Ada juga anak - anak disana bermain main. Dan diantara deretan rumah yang ada, maka untuk membedakan dengan wisma lokalisasi, rumah tersebut bertuliskan " KELUARGA". Jadi kasihan sebenarnya anak anak yang tinggal di wilayah itu.
Kendaraan yang biasa parkir disana waktu itu umumnya adalah truk dan taksi. Sudah menjadi hal yang biasa terjadi bahwa para supir truk antar kota yang berhari hari menempuh perjalanan jauh meninggalkan keluarga, maka bagi yang tidak kuat imannya termasuk mereka yang sering mampir "jajan" salah satunya di wilayah "SK".
Keadaan SK menjadi berubah ketika sore menjelang malam tiba. Karena penasaran pernah saya mencoba melewati kompleks itu saat maghrib menjelang, sendirian doang. Kalau ingat itu wah, saya dulu kok berani sekali ya. Hi hi. Yang jelas suasana menjelang malam menjadi ramai, banyak penjual makanan, suara musik dangdut yang kenceng dari warung warung makanan. Tak lupa para tamu Pria mulai berdatangan diawali dengan ngobrol ngobrol dengan mbak mbak PSK yang sudah berdandan sejak sore hari.
Uniknya, di wilayah SK ini juga ada sebuah masjid yaitu masjid Al Hidayah di kanan pintu masuk. Dan pada bulan Ramadhan kompleks ini tutup dan sepi karena banyak PSK yang pulang kampung.
Menurut data yang saya ambil dari mbah Google. Dari data LSM Griya Asa pada Desember 2014, SK dihuni 759 PSK dan158 mucikari serta158 wisma. Rata rata tiap PSK melayani 1-5 orang per malam dengan tarif 100 sd 200 ribu. Ada pemeriksaan rutin HIV, dan PSK yang terinfeksi HIV dipulangkan.
Ya, bagaimanapun keadaannya itulah realita sampai saat ini bahwa praktek prostitusi baik penyedia maupun pengguna jasanya selalu saja ada dari waktu ke waktu, dari jaman ke jaman. Ada yang bertobat, ada juga yang terjerumus. Upaya pemerintah daerah untuk menutup lokalisasi secara bertahap di wilayahnya masing masing menjadi hal yang patut diapresiasi, terlebih dengan memberikan solusi supaya mereka mendapatkan pekerjaan pengganti yang lebih layak dan halal.
Semoga suatu hari ketika saya berkesempatan berkunjung kesana lagi, tempat yang dulu saya pernah dekat tersebut mengalami perubahan dan tidak ada lagi kegiatan prostitusi disana seperti bubarnya Dolly di Surabaya dan berikutnya Kalijodo di Jakarta.
Ya, saat ini saya hanya bisa turut berdoa untuk kehidupan mereka yang lebih baik.
Sleman, 17 Februari 2016
Pk 24.47 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar