Sabtu, 30 Juli 2022

Mengenang mereka yang telah pergi (1)

 

Repost tulisan di facebook 9 Desember 2015

Beberapa hari kemarin entah mengapa saya selalu teringat dengan teman kerja saya, yang sejak beberapa bulan lalu memutuskan untuk pensiun dini setelah sebelumnya sudah tidak aktif bekerja sejak Maret 2013.
Terakhir kali beliau ngantor adalah saat kami, pengurus dan pengawas koperasi mengadakan rapat anggota tahunan/RAT dimana beliau merupakan ketua Pengawasnya. Setelah itu beliau tidak aktif karena sakit yang kemudian diketahui sebagai kanker usus dan kemudian menjalani operasi Kolostomi yaitu pembedahan untuk pembuatan lubang dari usus besar melalui dinding perut untuk mengeluarkan feses.
Proses selanjutnya adalah menjalani kemoterapi sebagaimana penderita kanker pada umumnya. Meski tidak bisa aktif lagi, saat ada undangan acara di kantor seperti halal bihalal, RAT koperasi beliau mengupayakan untuk datang maupun sesekali ke kantor untuk suatu urusan.
Hati saya mulai bertanya tanya saat beliau yang terakhir sebagai Kasubbag Umum di kantor kami, tidak datang memenuhi undangan acara HUT RS. Dan beberapa hari kemarin saya teringat beliau terus sehingga saya mencari nomor kontaknya karena beberapa waktu lalu no kontak di hp saya hilang semua. Dan ternyata ketika sy sms saat kami kumpul rapat koperasi, yang menjawab istrinya bahwa beliau sudah tidak bisa apa apa lagi dan mohon doanya.
Maka Rabu kemarin setelah rapat koperasi yang dilanjutkan rapat verifikasi data penanganan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak ke Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat atau BPPM di Jln Tentara Rakyat Mataram Yogyakarta , saya putuskan untuk mampir ke rumah beliau di Pingit yang kebetulan tidak jauh dari BPPM.
Alangkah terkejutnya saya saat menemui beliau mendapati kondisinya yang sudah sangat memprihatinkan padahal 3 bln yang lalu saat terakhir ke kantor kondisinya masih bagus. Kemarin saya nyaris tidak dapat mengenalinya lagi, sangat kurus sekali dan beliau hanya bisa terbaring lemah dan selalu kesakitan, hanya bisa makan peptisol dan nestle, namun masih bisa diajak komunikasi meskipun terbata bata.
Diketahui bahwa beliau mengalami
Metastasis atau penyebaran kanker dari suatu organ tubuh ke organ tubuh lain, yaitu ke tulang dan hati.
Saat menemuinya beliau menangis, meminta maaf atas segala kesalahan, merasa tidak kuat lagi dan ingin secepatnya dipanggil yang maha kuasa. Sekuat tenaga saya berusaha menahan air mata untuk membesarkan hatinya agar bersabar, berdoa dan berpasrah kepada Allah, walau akhirnya jebol juga dan kami pun bertangisan. Memang siapapun yang melihatnya tidak tega dengan kondisinya saat ini. Beliau yang orangnya baik dan nggak neko neko, harus mendapatkan cobaan seberat itu.
Sorenya dan hari hari berikutnya teman teman di kantor mulai datang menjenguk serta melakukan penggalangan dana untuk meringankan beliau dan keluarganya.
Beliau sendiri adalah seorang difabel yang hanya memiliki satu tangan kanan. Sedang tangan kirinya sejak lahir tidak tumbuh sempurna hanya sebatas lengan saja. Meski begitu beliau banyak berprestasi dalam bulutangkis dan dulu sering mengikuti turnamen olahraga bagi penyandang cacat hingga ke luar negeri seperti korea dan mendapatkan medali emas.
Saya masih ingat, saat kami masih satu unit kerja sebagai staf program, setiap pulang dari turnamen beliau selalu mentraktir teman temannya makan di luar. Dan saat saya melahirkan anak kedua yang lahir sebelum waktunya, baru 8 bulan secara cesar, beliau yang pertamakali menengok dengan pak tri waktu itu ke rumah sakit, mengantarkan berkas yang harus ditandatangani dan membantu mengurus pekerjaan saya di kantor.
Semoga diberikan ketabahan dan kesabaran dan semoga diberikan Nya yang terbaik ya, Pak.
Dan untuk kita semua selalu waspada dengan penyakit kanker yang saat ini semakin banyak penderitanya. Secepatnya berobat saat stadiumnya masih rendah.
Ternyata itulah pertemuan saya dengan beliau untuk yang terakhir kalinya seminggu sebelum beliau menghadap Nya pada hari selasa 8 Desember 2015, pada usia 53 tahun. Innalillahi wa inna ilaihi roojiun
Selamat jalan Pak Surasno, semoga mendapatkan tempat yang terbaik disisiNya, diangkat segala dosa dan kesalahan melalui cobaan sakit selama hampir tiga tahun ini.
Beberapa teman sudah terlebih dahulu meninggalkan dunia ini. Sudahkah kita bersiap diri seandainya tiba saatnya giliran kita nanti?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar