Sabtu, 30 Juli 2022

BERKAH PASIR MERAPI

Repost tulisan di Facebook 6 Maret 2016

Selama beberapa hari berturut turut kemarin, harian Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta menampilkan berita tentang penyelamatan gumuk pasir di pantai Parangtritis dari penambangan liar yang membuat kawasan langka dan unik tsb berkurang dari 20 hektar menjadi 6 hektar yang berujung pada keputusan ditutupnya penambangan gumuk pasir di parangtritis.
Keberadaan gumuk pasir langka sejak puluhan tahun yang lalu tersebut tidak terlepas dari material gunung merapi berupa batu batuan besar dan pasir yang turun melalui sungai yang berhulu di merapi dan semuanya bermuara di pantai selatan, lalu dalam kondisi kering berkumpul membentuk bukit pasir yang luas dan indah.
Namun di satu sisi , daya tarik menjual pasir dari gunung Merapi oleh para penambang membuat gumuk pasir Parangtritis terancam punah.
Disisi lain, erupsi gunung Merapi yang cukup dahsyat pada tahun 2010 yang lalu, selain menimbulkan korban jiwa ratusan orang, beberapa desa terkubur, ribuan pengungsi serta kerugian materi yang tidak sedikit namun juga membawa berkah lain yaitu keberadaan muntahan pasir merapi yang sangat fantastik yang merupakan bahan material kualitas nomor satu yang banyak diburu oleh toko toko bangunan hingga pengiriman keluar kota.
Menurut sumber dari Yogyakarta Tourist Information, jumlah volume pasir yang ditumpahkan ke sekitar gunung dan di 12 sungai yang berhulu di Gunung Merapi tersebut diantaranya sungai Gendol, sungai Boyong, sungai Woro dll tersebut sekitar 140 juta m3, dan itu gratis. Jumlah tersebut apabila dikalikan per meter kubiknya dengan harga pasar, maka nilainya mencapai 7 trilyun rupiah. Tak heran banyak orang yang kemudian ikut ambil bagian dalam penambangan pasir baik legal maupun ilegal untuk turut menuai berkah pasir merapi
Kini, di sepanjang Jalan Pakem Turi Sleman di sepanjang kiri dan kanan jalan banyak berdiri depo pasir baru. Jadi pasir yang diambil dari sungai ditempatkan di suatu tempat yang luas untuk dijual kembali hingga keluar kota. Disatu sisi lalulintas truk bermuatan pasir juga membuat jalan jalan cepat rusak terutama jalan dari Koroulon Ngemplak Sleman ke arah Manisrenggo Klaten yang berkali kali rusak.
Mbak Sri mantan PRT saya dan suaminya mas Wanto adalah salah satu dari sekian orang yang mendapatkan berkah dari pasir merapi. Mbak Sri pernah ikut saya setahun lebih waktu dafa masih bayi juga waktu dik fajar lahir sampai usia 7 bulan. Meski sudah tidak bekerja lagi di tempat saya namun dia masih sering bersilaturahmi ke rumah kami.
Pada waktu erupsi 2010, mbak Sri dan Mas Wanto yang merupakan tetangga mbah Maridjan alm sebenarnya baru saja membangun rumah kecil kecilan disamping rumah mertua. Namun apa daya, rumahnya dan rumah mertuanya serta beberapa desa lainnya lenyap tak berbekas terkubur muntahan lahar, hingga bersama warga lainnya mereka direlokasi pemerintah di hunian tetap / huntap Batur Cangkringan Sleman.
Di hunian barunya yang mirip perumahan itu mbak Sri yang bersekolah sampai klas lima SD namun rajin bekerja ini mencoba membuka laundri dan melayani pelanggan dengan cara jemput bola ke rumah rumah sambil mengurus Sendi anak tunggalnya yang berumur 8 tahun.
Sedangkan suaminya mas Wanto bekerja mencari pasir beserta ratusan penambang lainnya di sekitar sungai Gendol. Berkat keuntungan berlimpah dari penjualan pasir selama beberapa tahun, mas Wanto mempunyai tabungan yang cukup banyak, hingga suatu hari sekitar 1 tahun yang lalu mbak Sri kembali datang ke rumah kami untuk menanyakan kepada Bapak tentang bagaimana caranya membeli mobil.
Bapak waktu itu menasehati bahwa alangkah baiknya tabungan yang diperoleh diputar lagi untuk usaha lain daripada membeli mobil yang memerlukan biaya operasional dan nilainya semakin menurun. Kalau sudah mempunyai penghasilan dari beberapa sumber, barulah memikirkan membeli mobil pribadi.
Beberapa hari yang lalu saya kembali bertemu mbak Sri di toko swalayan Lestari di dekat rumah. Dia cerita kalau tabungannya dulu akhirnya dibelikan 6 ekor sapi yang dibesarkan bersama sama dengan kelompok peternak sapi lainnya di atas tanah bekas rumah mereka dulu yang sekarang dilarang untuk dijadikan tempat tinggal.
Selain itu mas Wanto bersama 7 penambang pasir lainnya patungan membeli sebuah minibus pariwisata yang disewakan kepada masyarakat yang membutuhkan. Untuk transportasi, mbak Sri dan mas Wanto berhasil memiliki dua motor dari beli baru. Adapun kegiatan laundrinya di huntap masih terus berjalan.
Ya, berkah pasir merapi telah merubah kehidupan mbak Sri dan keluarganya menjadi lebih baik yang tentu saja dilalui dengan bekerja keras, karena Alloh SWT tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang akan merubah nasibnya.
Sleman, Minggu 6 Maret 2016
Pk 16.10 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar