Sabtu, 30 Juli 2022

TENTANG KEDIAMAN KAMI

Repost tulisan di facebook 18 Januari 2016
Sekitar 2,5 tahun ini, kami telah pindah rumah ke tempat kediaman kami yang sekarang, meski kondisi rumahnya baru jadi 70 %. Kebetulan rumah yang sekarang ditempati dekat dengan kantor saya, sekitar 200 mtr saja.
Sebelum pindah kesini, banyak hal yang telah kami lalui sebelum akhirnya kami memutuskan menetap di tempat ini.
Beberapa bulan setelah saya menikah pada April 2004, Eyang Pujo almh mantan ibu kost saya yang rumahnya di depan kantor saya, menginformasikan tanah milik ayah Apri yang akan dijual. Apri adalah anak SMA Pakem asal Palembang waktu itu yang kost juga di Eyang Pujo dipavilyun sebelah luar, sedangkan saya kost di dalam rumah bersama Eyang.
Jadi tanah tsb milik orang Palembang yang membeli utk investasi lalu dijual lagi.
Kebetulan waktu itu Pak Gunawan suami saya mendapatkan fasilitas dari kantornya yaitu kredit Pitung atau pinjaman tunggal sebesar 75 jt. Kebetulan syarat pinjaman tsb adalah harus dibelikan properti tanah atau rumah dengan bunga ringan yang dapat dicicil sampai masa pensiun.
Awalnya kami tidak terlalu tertarik karena lahannya terlalu luas untuk kami dan uangnya juga tidak cukup. Untuk luas 977 m2, mereka menawarkan135jt. Namun mas Didik kakak Apri yang kebetulan khusus datang dari Palembang terus merayu kami, bahwa tanah tsb strategis dan dekat kantor saya.
Akhirnya setelah tawar menawar disepakati harga jualnya 130 jt atau 135 ribu per meter dan kami cicil selama hampir satu tahun dari Bulan Agustus 2004. Untuk menutupi kekurangan dana 55 jt suami saya menjual seluruh sapinya, jual motor kesayangan, jual saham dan menambah kredit lagi di BRI Syariah Yogyakarta. Pokoknya nekat waktu itu.
Adapun pada saat yang sama kami juga sedang merehab rumah tipe 36 / 90 di Perum Gajahmada Asri, Turi yang saya beli sebelum menikah 20 jt dari Pak Edi Suprapto suami mb Siti Nurhayati teman kantor saya dengan melanjutkan cicilan 150 ribu per bulan selama 15 thn, namun kemudian saya tutup kira2 13 jt dengan biaya sertifikatnya. Sumber dana saya peroleh dari penjualan sawah Bapak alm di Kutoarjo dan rehabnya juga patungan dengan suami.
Prinsip kami waktu itu adalah sesegera mungkin kami mempunyai tempat tinggal sendiri meskipun di pinggiran kota yang sepi sesuai anggaran yang kami miliki sebelum nantinya kami tidak sanggup membelinya karena harga tanah yang terus merangkak naik.
Akhirnya kami pun menempati rumah di Gajahmada Asri saat si sulung dek Dafa berusia 1 bulan. Selama 7,5 thn hingga anak ketiga kami tinggal disana dalam suasana damai, tetangga yang rukun dan lingkungan yang sudah terbentuk dengan baik.
Namun ketika kami harus menerima kenyataan si sulung harus bersekolah di sekolah inklusi di kota, maka kami mulai berpikir untuk pindah rumah. Tanah Pakem yang selama masa tersebut kami tanami dengan pisang, kami putuskan untuk dijual. Apalagi setelah kejadian erupsi gunung merapi tahun 2009, mengingat letaknya sekitar 12-15 km saja dr Gunung Merapi.
Hal aneh terjadi. Beberapa kali kami mencoba transaksi dengan orang untuk penjualan tanah tsb, terakhir dengan harga 355 jt di tahun 2010. Namun sering tidak jadi karena berbagai hal. Ibaratnya tanah tsb seperti tidak mau berpisah dengan kami.
Lalu Om Indartono, adik ibu almh menasehati kami untuk tidak menjual tanah tsb, karena tanah itu pulung. Jarang orang jaman sekarang mempunyai lahan yang luas. Apalagi lokasinya dekat kantor dan strategis. Maka kami pun setelah sempat mengontrak di daerah Dayu jakal km 8 selama 1 tahun sebesar 14 jt, memutuskan untuk membangun rumah di Pakem dengan pertimbangan lokasi sekolah Dafa masih terjangkau. Ayah mengambil kredit KPR untuk itu, juga dibantu mertua yang menebang banyak kayu di kebun untuk kami. Adapun rumah yang dulu sementara masih dikontrakkan. Ada banyak kenangan disitu sehingga saya masih berpikir lagi untuk menjualnya.
Dan inilah rumah yang kami tempati sekarang. Tidak pernah terpikir sebelumnya akan menempati lahan seluas 977m2 yang belakangnya mewah alias mepet sawah. Karena masih banyak tersisa lahan, maka kami manfaatkan untuk menanam tanaman buah, sayur dan membuat kolam ikan. Kami pasrah seandainya terjadi lagi erupsi gunung merapi, maka kami akan bersiap mengungsi kembali.
Serasa semua sudah diatur oleh yang diatas. Kita manusia hanya mengikuti apa yang telah menjadi garis tangan hidup kita yang fana ini. Harta hanyalah titipan yang sewaktu waktu dapat diambilNya dan kehidupan akherat yang kekal lah tempat kita akan kembali.
Sleman, 18 Januari 2016
Pk. 02.25 dini hari.

KISAH TANAMAN BUAH DI RUMAH

Repost tulisan di facebook 24 Desember 2015

Suatu hari pada waktu kami baru beberapa bulan pindah ke rumah ini sekitar 2,5 tahun yang lalu, seorang bapak tua bertamu ke rumah dan menawarkan tanaman buah buahan yang dia jual.
Waktu itu karena kami masih repot pindahan disaat rumah masih jadi 50 % tapi sudah mulai ditempati dan masih memikirkan tukang, maka kami pun belum kepikiran untuk tanam menanam di sisa lahan di samping, depan maupun belakang rumah.
" Bapak dan ibu nggak usah mikir bagaimana menanamnya. Nanti harga tanaman sudah termasuk jasa menanam dan saya beri pupuk kandang sekalian dan garansi 1 bulan. Kalau saya tengok tanamannya ada yang mati akan saya ganti. Sayang lho bu kalau halamannya tidak dimanfaatkan. " begitu katanya seolah mengerti kerepotan kami.
Wah, boleh juga nih tawarannya. Disaat banyak orang mulai melakukan penjualan tanaman secara online melalui internet, sang bapak tua yang mungkin tidak mengenal dunia maya mempunyai kreatifitas yang lain dalam rangka menjual tanamannya dengan cara jemput bola dari rumah ke rumah.
Jadilah kami membeli pohon buah buahan seperti srikaya, jambu air, sirsat,manggis, durian, ace, mangga, jeruk dll, ada batang batang singkong juga yang langsung ditanam dan dipupuk olehnya hingga dua karung pupuk kandang yang dikerjakannya dalam waktu 3 hari.
Dua tahun berlalu, beberapa pohon mulai berbuah. Terutama singkong yang selama ini sudah kami nikmati hasilnya. Seperti juga pagi ini ketika srikaya jumbo yang baru belajar berbuah cuma satu biji berhasil dipetik dek fajar karena sudah matang di pohon.
Adapun sang bapak tua, kami nggak tahu kabarnya lagi. Namun kami masih terus mengingatnya sebagai orang yang turut berjasa dengan adanya tanaman buah di halaman rumah kami. Semoga selalu sehat dan terus laku jualannya ya Pak.

TENTANG KEHIDUPAN DI LOKALISASI SK

Repost tulisan di facebook 18 Februari 2016

Heboh rencana penutupan lokalisasi Kalijodo di Jakarta oleh Gubernur DKI Basuki Cahaya Purnama setelah sebelumnya diawali dengan penutupan lokalisasi Dolly oleh Ibu Risma walikota Surabaya sekitar 2 tahun lalu, mengingatkan saya dengan sebuah lokalisasi di Kota Semarang yang mungkin menunggu giliran yang sama entah kapan waktunya.
Sebelum menjadi PNS, pada tahun 2000 - 2001 saya pernah bekerja di LSM LP2K atau Lembaga Pembinaan Perlindungan Konsumen di daerah Jl Taman Borobudur Utara Manyaran Semarang, dan kebetulan juga kost di sekitar wilayah tsb.
Saat itu saya pernah melihat dari dekat kehidupan kompleks lokalisasi terbesar di kota Semarang yaitu Lokalisasi Sunan Kuning atau terkenal dengan sebutan "SK". Kebetulan saya kost di RW 2, sedangkan "SK" atau dalam nama resminya Kompleks Resosialisasi Argorejo waktu itu terlokalisir di wilayah RW 4 Kelurahan Kalibanteng Kulon Semarang Barat. Konon SK sudah ada sejak tahun 1966 dan lokasinya dari bundaran Kalibanteng (Bandara A Yani) masuk ke barat 200 mtr lalu masuk gang lagi 100mtr.
Saya yang waktu itu bekerja sebagai NE atau Nutrision Edukator bertugas memberi penyuluhan gizi dan mengenalkan makanan pendamping ASI Delvita berikut paket bantuan untuk ibu ibu balita dari WFP atau World Food Programme dan kebetulan mendapatkan wilayah kerja salah satunya di kompleks "SK". Penyuluhan dilakukan saat pertemuan posyandu di rumah warga atau di aula kelurahan.
Awalnya saya tidak tahu tempat tersebut, namun kemudian diberitahu oleh mas Adri dan mas Dawud teman di LP2K waktu itu, bahkan awal awalnya sempat diantar mas Dawud mengunjungi wilayah tsb, juga masuk ke pertemuan kader posyandu bersama Hetty dan Mas Dawud.
Pada waktu itu jalan - jalan antar gangnya tidak terlalu bagus dan tidak terlalu ramai pada siang hari. Mbak mbak PSK atau Pekerja Seks Komersial juga maminya (mucikari) tampak santai di depan wismanya di siang hari sembari ngobrol, merokok dan berbaju minim adalah pemandangan sehari hari disana. Banyak yang saya lihat umur PSKnya masih remaja entah berasal darimana. Ada juga anak - anak disana bermain main. Dan diantara deretan rumah yang ada, maka untuk membedakan dengan wisma lokalisasi, rumah tersebut bertuliskan " KELUARGA". Jadi kasihan sebenarnya anak anak yang tinggal di wilayah itu.
Kendaraan yang biasa parkir disana waktu itu umumnya adalah truk dan taksi. Sudah menjadi hal yang biasa terjadi bahwa para supir truk antar kota yang berhari hari menempuh perjalanan jauh meninggalkan keluarga, maka bagi yang tidak kuat imannya termasuk mereka yang sering mampir "jajan" salah satunya di wilayah "SK".
Keadaan SK menjadi berubah ketika sore menjelang malam tiba. Karena penasaran pernah saya mencoba melewati kompleks itu saat maghrib menjelang, sendirian doang. Kalau ingat itu wah, saya dulu kok berani sekali ya. Hi hi. Yang jelas suasana menjelang malam menjadi ramai, banyak penjual makanan, suara musik dangdut yang kenceng dari warung warung makanan. Tak lupa para tamu Pria mulai berdatangan diawali dengan ngobrol ngobrol dengan mbak mbak PSK yang sudah berdandan sejak sore hari.
Uniknya, di wilayah SK ini juga ada sebuah masjid yaitu masjid Al Hidayah di kanan pintu masuk. Dan pada bulan Ramadhan kompleks ini tutup dan sepi karena banyak PSK yang pulang kampung.
Menurut data yang saya ambil dari mbah Google. Dari data LSM Griya Asa pada Desember 2014, SK dihuni 759 PSK dan158 mucikari serta158 wisma. Rata rata tiap PSK melayani 1-5 orang per malam dengan tarif 100 sd 200 ribu. Ada pemeriksaan rutin HIV, dan PSK yang terinfeksi HIV dipulangkan.
Ya, bagaimanapun keadaannya itulah realita sampai saat ini bahwa praktek prostitusi baik penyedia maupun pengguna jasanya selalu saja ada dari waktu ke waktu, dari jaman ke jaman. Ada yang bertobat, ada juga yang terjerumus. Upaya pemerintah daerah untuk menutup lokalisasi secara bertahap di wilayahnya masing masing menjadi hal yang patut diapresiasi, terlebih dengan memberikan solusi supaya mereka mendapatkan pekerjaan pengganti yang lebih layak dan halal.
Semoga suatu hari ketika saya berkesempatan berkunjung kesana lagi, tempat yang dulu saya pernah dekat tersebut mengalami perubahan dan tidak ada lagi kegiatan prostitusi disana seperti bubarnya Dolly di Surabaya dan berikutnya Kalijodo di Jakarta.
Ya, saat ini saya hanya bisa turut berdoa untuk kehidupan mereka yang lebih baik.
Sleman, 17 Februari 2016
Pk 24.47 WIB

ANTARA MAHASISWI DAN PRT


Repost tulisan 18 Februari 2013 di facebook tuti handayu

Sejak awal menikah kami selalu menggunakan jasa mereka, karena kami berdua, saya dan suami sama – sama bekerja kantoran. Banyak sekali suka duka kami mempunyai PRT. Namun dari sekian banyak mbak PRT yang pernah tinggal dengan kami, diantaranya ada yang mempunyai kesan mendalam bagi kami
Saat itu pasca erupsi merapi, dan sudah kembali dari mengungsi, kami agak kesulitan mencari PRT lagi, karena mbaknya pulang dan mungkin masih takut berada di wilayah Sleman.
Selama ini jalan cepat kami mencari PRT adalah dengan memasang iklan lowongan kerja di harian kedaulatan rakyat, misalnya : “Dibutuhkan PRT utk klg, muslimah, bs momong, tg jwb, tidur dalam, gaji sekian, hub no ini, dsb”
Tidak seperti biasanya yang selalu ada respon cepat sampai beberapa orang, waktu itu hanya ada satu orang menghubungi saya, namanya Mbak Ayda, 21 tahun, asal Jepara. Uniknya, dia adalah seorang mahasiswi dari FE UII Jln Kaliurang Km 14, Yogyakarta, semester 4 waktu itu.
“ Apa enggak salah mbak, mau bekerja di tempat saya?” tanya saya waktu itu lewat Hape
“ Enggak bu, saya memang membutuhkan pekerjaan. Sekarang saya sedang cuti kuliah, Saya berharap ibu mau membantu saya”
Setelah saya dengan suami berdiskusi, akhirnya kami putuskan untuk menjemputnya di tempat kostnya dekat kampus, kira-kira 10 km dari rumah kami. Lagipula, saat itu kami memang sangat membutuhkan, karena saya tidak bisa terus menerus ijin kantor karena tidak ada PRT.
Begitulah, sejak saat itu Mbak Ayda membantu keluarga kami, dia tanpa canggung bekerja membersihkan rumah, mencuci dan menyetrika baju, membantu memasak dan tanpa diminta ikut membantu Dafa dan Fajar belajar maupun mengajak mereka bermain di kamarnya. Kerjanya bagus, bersih dan rajin
Suatu hari saya berkesempatan mengobrol dengan dia, mengapa dia cuti kuliah untuk bekerja.
“ Sebenarnya saya ini kayaknya salah ambil tempat kuliah e Bu,.. Awalnya, setelah lulus SMA, saya memang pengin banget kuliah. Di desa saya hanya 3 orang yang kuliah, termasuk saya, dan saya satu2nya perempuan. Teman sekampung saya sudah banyak yang menikah dan punya anak. Jadi disana saya sudah dianggap perawan tua. Tapi saya nggak ingin seperti mereka, saya ingin perubahan dan ingin maju Bu ”
Saya tersenyum mendengarnya.
Saya jadi teringat pada tahun 2000 saya pernah mendapat pekerjaan freelance dengan membantu penelitian tentang kesehatan reproduksi di Jepara selama hampir 2 bulan. Memang waktu itu diantara responden saya, merupakan perempuan2 muda usia 16 – 19 tahun, tapi mereka sudah menikah dan punya anak. Saya tidak menyangka ternyata hal itu masih terjadi sampai 11 tahun kemudian saat Mbak Ayda menceritakan hal tsb
“ Lalu saya membaca di koran ada kuliah gratis di STIE Hamfara Yogyakarta, tapi harus tinggal di asrama disana. Saya sempat kuliah 2 semester, tapi di kemudian hari, ternyata kuliahnya tidak benar2 gratis hanya sebutannya saja yang berbeda, iuran atau infak, dan jatuhnya cukup mahal bagi saya yang orangtuanya petani dan ibu berdagang di pasar. Selain itu saya tidak puas dengan sistemnya, lalu saya mencari universitas lain yang bisa menerima transfer supaya tidak mengulang dari nol lagi, ternyata yang bisa nerima transferan hanya UII Bu, lalu saya pindah ke UII. Tapi baru satu semester, saya kehabisan uang bu, karena biaya hidup disini cukup tinggi buat saya, minimal 700ribu, itu sudah ngirit banget. Belum biaya kuliahnya, ternyata UII itu tempat kuliahnya anak – anak orang kaya” Lanjutnya
“ Selama saya cuti kuliah, saya bermaksud bekerja mengumpulkan uang untuk kelanjutan kuliah saya. Kemarin sebelum di tempat ibu, saya sempat kerja di pabrik di Semarang. Dan dua bulan lagi kuliah semester depan akan mulai, tapi saya tidak bisa ambil cuti lagi, jadi nanti beberapa hari sebelum saya mulai kuliah lagi, saya mau pamit, dan ibu bisa bersiap mencari pembantu lagi.”
Begitulah, Mbak Ayda sempat dua kali membantu di tempat kami, pada waktu cuti kuliah saat saya masih hamil anak ketiga dan semester depannya lagi pada waktu libur kuliah saat dik Safira anak ketiga kami sudah lahir dan berumur 1 bulan. Memang dia hanya bisa membantu yang sifatnya sementara saja.
Selama ikut kami, pernah juga Mbak Ayda menderita sakit demam tinggi dan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Untung saya dan Bapak sedang libur waktu itu. Akhirnya kami pun merawat Mb Ayda dengan membelikan obat, membawakan makanan dan minuman dan membebaskannya dari segala pekerjaan rumah. Kami sempat was – was, bagaimana kalau sampai parah, sedang saat itu teman2nya sedang libur semester. Orangtuanya juga jauh.Tapi untungnya keesokan harinya keadaannya berangsur membaik.
Suatu hari saya juga sempat bertanya kepada Mbak Ayda, apa teman kuliahnya tahu dia melakukan ini?
“ Beberapa tahu Bu, dan mereka tidak mempermasalahkan, malah mereka banyak membantu aku Bu, Mereka anak – anak orang kaya yang ke kampus saja bawa mobil honda jazz, avanza dsb, tapi mereka baik – baik kok Bu. Nggak sombong, dan menerima saya apa adanya.”
Melihat Mbak Ayda, saya seperti mengaca pada diri saya sendiri waktu kuliah dulu. Saya dulu juga begitu, Saya begitu bersusah payah untuk bisa menyelesaikan kuliah S1 saya karena keadaan ekonomi orangtua yang tidak memungkinkan waktu itu. Bapak sudah meninggal tahun 1993 dan ibu sakit –sakitan. Dengan berhutang kesana kemari, disokong dan dibantu sana – sini oleh keluarga besar serta berusaha mencari penghasilan tambahan, akhirnya saya bisa menyelesaikan kuliah demi suatu tekad untuk menginginkan perubahan hidup yang lebih baik. Sampai saat ini saya kadang masih tidak percaya apabila membandingkan keadaan saya yang dulu dan sekarang. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah,...
Saya dulu juga mempunyai teman – teman kuliah yang sangat baik, yang mempunyai taraf ekonomi yang lebih tinggi, namun tidak sombong dan menerima saya apa adanya, bahkan banyak diantara mereka sering membantu dan memperhatikan saya. Sampai saat ini saya masih sering merindukan kebersamaan dengan mereka. Karena jarak dan waktu menyebabkan kami tidak bisa sering – sering bersua.
Mungkin bedanya dengan Mb Ayda, dulu saya tidak kepikiran,.. untuk jadi PRT 🙂
Sampai saat ini saya dan mb Ayda masih sering saling tanya kabar melalui sms.
Saya hanya bisa berdoa, semoga Mbak Ayda bisa mengejar cita – citanya untuk maju dan memperoleh masa depan yang lebih baik.